REFLEKSI MATA KULIAH FILSAFAT ILMU
Prodi Pend.Matematika B
Program Pascasarjana
Universitas Negeri Yogyakarta
Prodi Pend.Matematika B
Program Pascasarjana
Universitas Negeri Yogyakarta
Pertemuan ke 11
Kamis, 7 Desember 2017
Dosen pengampu: Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Topik pada perkuliahan kali ini yaitu membahas sekilas
tentang buku karya Immanuel kant yang berjudul Critique of Pure Reason. Isinya murni
tentang filsafat, tidak condong terhadap salah satu agama manapun, tetapi
netral, tidak menyinggung-nyinggung tentang gereja dan yang lainnya. Sebenar-benar filsafat ilmu, epistomologi, dan
kita harus memahami ontologi, dan aksiologi. Ibarat makanan dan bernafas,
adalah satu kesatuan yang tidak berarti jika salah satu dihilangkan.
Dalam bukunya yang di terjemahkan dalam bahasa inggris,
dengan bahasa filsafat yang tinggi, kami berusaha menerjemahkan dan memahami
maksud dari tulisan Kant. Beberapa dari
kami dimintai pendapat. Beberapa hampir benar, dan Pak Marsigit memberikan
ulasan dengan kalimat yang lebih sederhana agar mudah dipahami. Di salah satu
paragraf membahas tentang pikiran-pikiran manusia. Reason, mind, cognition,
sebenarnya makna nya adalah menalar. Sebenarnya
maksud dari berfikir itu, ingin diketahui apa maksud dari berfikir. Tetapi
sangat sulit untuk dijawab, dan tidak dapat dijawab dengan tuntas. Berfikir itu
adalah suatu prinsip, dimana prinsip-prinsip itu salah satunya juga dilahirkan
dari pengalaman yang dialami manusia. Prinsip yang ada dalam pikiran manusia
itu bersifat logis. Namu logika manusia juga harus cocok dengan pengalaman. Ilmu
tidak cukup hanya dengan logika, tapi juga harus berdasarkan pengalaman. Prinsipnya, berfikir yang berasal dari logika
maupun yang berasal dari pengalaman itu tiada akhirnya, yang disebut metafisik.
Metafisik adalah ketiadaakhiran dari pikiran. Pikiran tidak akan pernah
berhenti karena pikiran adalah prinsip atau aturan. Pikiran itu melampaui lahir
dan mati. Kita bisa memikirkan setelah kematian. Pikiran menembus ruang dan waktu. Separo dari pikiran
adalah pengalaman. Menganalogikan pikiran itu seperti orang yang membabat
hutan. Sangat sulit. Seperti menghabiskan hutan dan sekarang menjadi perkotaan.
Pikiran itu adalah aturan. Administrasi juga aturan atau tatadara, bersifat
dogma. Untuk memperoleh pemikiran baru, menghilangkan dogma itu seperti kaum
barbar yang berperang dalam rangka memperoleh penjelasan konsep tentang
berfikir, sehingga kerajaan dogma sebelumnya menjadi hancur. Jika pikiran kita
tetap, maka disebut empire. Itulah tujuan belajar berfilsafat, agar meruntuhkan
pemikiran yang sekarang. Maka muncullah sifat skeptis, karena sikap yang kokoh
menjadi skeptis, dari skeptis menjadi ragu-ragu. Tetapi keragu-raguan itu hanya
didalam pikiran, bukan di dalam hati. Pikiran kita seperti suku barbar yang
pergi kemana-mana. Pikiran kita dapat berubah-ubah, tetapi tidak boleh
menyentuh keyakinan. Contohnya guru-guru itu jika tidak menjadi guru yang
kreatif maka lama kelamaan hanya akan menjadi mitos, berkarat dan jamuran. Jadi
semakin tua seorang guru bukanlah jaminan semakin bijaksana. Pikiran kita yang selalu mencari dan
membandingkan ilmu baru, yang bersifat dinamik diibaratkan seperti suku barbar yang
menjelajah kemana-mana. Itu hanyalah sebagai perumpamaan. Hanyalah bahasa
analog. Jika seorang keukeuh dengan pemikirannya diibaratkan orang yang tinggal
permanen di suatu tempat. Yang nomaden membenci orang yang bertempat tinggal
tetap, yang membentuk masyarakat, sehingga membentuk status quo, diibaratkan
seperti pemikiran. Sebenar-benar hidup adalahl hermenitika antara status quo
dan reformasi. Sebenar-benar hidup adalah berfikir. Sebenar-benar bodoh adalah
berhenti dari ikhtiar, dan yang cerdas adalah yang berusaha, dalam artian
memerangi status quo.
Apakah prinsip itu merupakan status
quo atau bukan? Prinsip itu bersifat tetap, sedangkan yang berubah itu adalah
isinya. Prinsip itu adalah wadahnya. Wadah dan isi absolut adalah milik Tuhan. Demikianlah
refleksi perkuliahan kali ini.
Comments
Post a Comment