REFLEKSI MATA KULIAH FILSAFAT ILMU
Prodi Pend.Matematika B
Program Pascasarjana
Universitas Negeri Yogyakarta
Prodi Pend.Matematika B
Program Pascasarjana
Universitas Negeri Yogyakarta
Pertemuan ke 10
Kamis, 30 November 2017
Dosen pengampu: Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Assalamu'alaikum wr.wb
Berikut adalah refleksi atau ringkasan dan ulasan yang di sampaikan oleh dosen kami Pak Marsigit pada materi perkuliahan filsafat ilmu. Semoga dapat menambah ilmu dan bermanfaat bagi siapapun yang membaca.
Dunia ini jika
kita abstraksi, tergantung dari mesinnya, apapun konteksnya. Terpilih mana yang
akan dipikirkan. Setiap saat kita mengabstraksi sesuatu. Dengan kata lain kita
memilih dalam hidup ini, dengan berikhtiar. Yang telah terjadi itulah yang
terpilih, atau takdir. Bahkan bernapas pun adalah suatu proses abstraksi. Meskipun
kita tidak menyadarinya. Hidup itu diantara dua hal, antara serius dan tidak
serius, tidur dan tidak tidur, dan segala hal yang ada dan mungkin ada. Sebenar-benar manusia adalah mata belalang. Fenomena
hermenitika tiap detik, ada yang rutin, mengembang, dan ada juga yang
meruncing. Dalam berfilsafat, kita memanipulasi struktur dunia. Kita memilih
dan menyempurnakan. Struktur yang paling inti adalah wadah dan isi. Semisal bumi
menuju langit, dalam berbagai konteks. Matematika formal itu ada di langit,
hanya ada di pikiran. Yang penting pikiran konsisten. Sebenar-benar karya ilmiah adalah gurunya
referensinya. Setinggi apapun gunung, manusia akan bisa mendakinya dengan
teknologi. Diandaikan seorang guru yang suatu ketika ingin mengajarkan
penjumlahan kepada muridnya. Guru tersebut dapat memilih apakah dia akan
mengajar dengan naluri, dengan pengalamannya, dengan intuisi, atau dengan
riset. Sebenar-benar pendidik adalah peneliti, dan mengajar itu adalah
penelitian, adalah karya ilmiah dan referensi. Mengajar itu tidak hanya dilihat
dari segi estetika atau keindahannya, tetapi juga harus ada unsur etiknya. Maka
seorang guru harus waspada terhadap metode yang dia ajarkan kepada
murid-muridnya, agar tidak merusak intuisi mereka. Apapun fenomena yang
terjadi, bisa menjadi bencana, ataupun barokah. Tapi yang paling penting adalah
bagaimana akal kita mempersepsikan fenomena yang terjadi. Semua tegantung dari
subyeknya, tergantung kesiapan kita. Untuk menyiapkan kita, diperlukan ilmu
atau juga teknologi. Demikian halnya jika kita sebagai seorang guru. Bagaimana kita
mengajarkan kepada siswa bisa menjadi bencana bagi mereka, atau menjadi barokah
bagi mereka. Maka mana yang akan kita pilih? Bagaimana siswa siap menerima
kedatangan gurunya. Karya ilmiah itu adalah aliran referensi, aliran jurnal,
aliran buku, aliran reputasi, sedangkan filsafat adalah aliran ide dan gagasan
dari awal dan akhir zaman. Yang ada di bumi itu adalah kenyataan, hukum sebab
akibat, membangun dunia, dan sebagainya. Yang di langit itu adalah analitik a
priori. Maka yang terjadi di bumi ada dua hal, tetapi tidak berimbang. Yang di
langit itu adalah ambisi orang tua, ambisi pedagang, dan lainnya. Melihat sistem pendidikan di
negeri kita, apapun inovasi yang diperoleh oleh para ahli pendidikan, tetap
saja diadakan ujian nasional bagi para siswa. Matematika murni yang di pelajari
di perguruan tinggi adalah matematika yang di langit, sedangkan matematika di
sekolah matematika yang ada dibumi, adalah kegiatan. Semua yang ada di bumi itu
adalah kegiatan.
Pemahaman di dalam pikiran adalah
imajinasi. Filsafat itu adalah ekstensi dan intensi. Ada potensi dalam pikiran
manusia, tentang lama dan baru, kuantitatif dan kualitatif. Di pikiran manusia
sudah tersedia tentang hal-hal untuk berdialog dengan manusia yang lainnya. Semua
diperoleh dari pergaulan, sejak manusia. Potensi bisa dialirkan melalui
genetika. Manusia bisa menurunkan potensinya ke keturunan nya yang ke sekian
dan ke sekian.
Comments
Post a Comment