REFLEKSI MATA KULIAH FILSAFAT ILMU
Prodi Pend.Matematika B
Program Pascasarjana
Universitas Negeri Yogyakarta
Prodi Pend.Matematika B
Program Pascasarjana
Universitas Negeri Yogyakarta
Pertemuan ke 8
Kamis, 2 November 2017
Dosen pengampu: Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Perkuliahan Filsafat ilmu hari
ini, dibuka dengan tes jawab singkat yang berisi 25 soal. Sama seperti
sebelumnya, tes jawab singkat ini untuk mengukur tingkat pemahaman mahasiswa
sudah sejauh mana mereka memahami filsafat dari membaca blog yang berisi tulisan-tulisan
Pak Marsigit. Berikut uraian soal, jawaban dan pembahasannya.
1 & 2). Apa ontologinya
metafisik? Wadah dan isi.
3 & 4). Apa
ontologinya epistemologi? Wadah isi.
5 & 6). Apa onologinya ontologi? Wadah isi.
7 & 8). Apa metafisiknya ontologi? Ada, mungkin ada.
9 & 10). Apa metafisiknya epistomologi? Ada, mungkin
ada.
11 & 12). Apa metafisikinya metafisik? Metafisik dari
apapun itu ada, mungkin ada.
13, 14 & 15). Apa epistomologinya ontologi? Ada,
mengada, pengada.
16, 17 &18). Apa epistomologinya metafisik? Ada,
mengada, pengada.
19, 20 & 21). Apa epistomologinya epistomologi? Ada,
mengada, pengada.
22 &23). Apa aksiologinya ontologi? Etik, estetika.
24 &25). Apa aksiologinya epistomologi? Aksiologi dari
apapun itu adalah Etik dan estetika.
Ontologi adalah kemampuan
mengabstraksi dan kemampuan
mengabstraksi itu berbahaya. Seperti orang yang memegang pisau. Reduksi itu
bisa bebahaya. Hanya orang-orang yang ahli yang bisa mengendalikannya. Persoalan hidup yang dihadapi itu adalah
karena tidak terampil melakukan reduksi. Sebenar-benar hidup adalah reduksi. Baik sadar
maupun tidak, kita melakukan reduksi
setiap hari. Wadah dan isi itu adalah bahan dasar dari yang ada. Suatu ilmu
belum bisa dikatakan ilmu jika belum mampu membedakan. Wadah dan isi itu
berstruktur. Metafisik itu meliputi yang ada dan mungkin ada. Begitu juga
dengan epistemologi.
Salah seorang
teman bertanya, bagaimana cara kita menghadapi hidup di era digital? Itu tergantung deduksi nya, secara matematika,
dan dan pndamen sebagai filsafatnya. Sebenar-benar
ilmu itu kalah dengan niatnya. Itulah pondamen.
Jadi cara menyikapinya dengan kreatif, dinamis, fleksibel, kritikal, tapi tetap
beriman dan bertakwa. Wujudnya dengan terus menerus berdoa.
Demikianlah refleksi dari perkuliahan kali ini.
Comments
Post a Comment