REFLEKSI MATA KULIAH FILSAFAT ILMU
Prodi Pend.Matematika B
Program Pascasarjana
Universitas Negeri Yogyakarta

Pertemuan ke 12 & ke 13
Kamis, 14 Desember 2017
Kamis, 21 Desember 2017
Dosen pengampu: Prof. Dr. Marsigit, M.A.



Pada perkuliahan kali ini menceritakan tentang kisah perjalanan hidup.  Dalam filsafat, dewa itu di ibaratkan sesuatu yang berkuasa atas sesuatu yang lain. Contohnya ayam itu adalah dewanya cacing, sedangkan diri kita masing-masing adalah dewa masing-masing untuk sifat-sifat.  Bodromoyo itu adalah bodronoyo dan idronoyo bertemu menjadi satu, manunggalnya iatu wadah dan isi, antara rakyat dan pimpinan, civitas dan pimpinan menjadi satu, manunggal wujud cita-cita yang satu mencapai  visi dan misi. Seperti seorang direktur dan mahasiswa harus manunggal, tunggal tekad, namanya bodromoyo. Sedangkan masing-masing individu dalam dirinya sendiri juga bodromoyo, tunggal tekad, yaitu antara do’a, kegiatan, dan cita-cita. Relevansinya jika diturunkan pragmatis filsafat, ideologisnya adalah visi. Jika diturunkan lagi, menjadi paradigma atau atmosfir yang berlaku dimana-mana, yang muncul secara alami atau diperintahkan oleh orang yang berkuasa. Paradigma saat ini bahwa para guru mengajar dengan metode yang sudah kuno. Siswa yang belajar juga sudah kuno. Yang harus ditingkatkan adalah menjadi guru atau siswa yang berkompetensi. Itulah yang disebut inovasi. Siswa yang belajar adalah yang ada, kemampuannya adalah yang mengada. Yang diminta adalah pengada nya. Sehingga sebagai seorang pengada, dituntut untuk mengikuti paradigmanya. Paradigmanya adalah The teacher is the researcher, the student is a researcher. Sebenar-benar hidup adalah meneliti penelitian, untuk menghasilkan. Sebenar-benar hidup adalah bergerak. Apapun yang bersifat saintifik itu harus referensi dan empiris, tidak bisa hanya salah satunya. Empiris yang paling mudah adalah studi kasus dan survey.
            Pada pertemuan terakhir di perkuliahan filsafat ilmu kali ini, Pak Marsigit menceritakan bahwa komunikasi itu sangat penting, efektif dan memperkuat intuisi. Tetapi segala sesuatu di dunia itu tidak ada yang absolut. Jika kita sudah kuat stabil, maka akan terancam mitos. Mitos dan perbatasan, menembus ruang dan waktu ada kaitannya dengan kuasa. Orang yang berkuasa sering memunculkan dan menggunakan mitos untuk mempertahankan kekuasaannya. Mitos itu adalah status quo, dan logos adalah anti status quo, karena mitos adalah tetap dan logos adalah perubahan. Maka berbahaya jika kita hanya berpikir tetap, berpikir itu harus ada perubahan. Keadilan dan keikhlasan sangat relatif. Artinya hidup itu berhierarki dan berstruktur. Seorang direktur tidak akan bisa menjadi direktur jika tidak bisa menjadi rakyat. Maka sebenar-benar direktur dan rakyat itu berhermenitika. Kerjakanlah diri kita masing-masing sebaik mungkin sesuai ruang dan waktunya, maka semua akan menyaksikan. Mitos itu bersifat relatif. Di dunia ini tidak ada yang bisa bersatu antara kata-kata dan perbuatan. Bahkan tidak bisa saling mengejar. Sebenar-benar hidup itu adalah kontradiktif. Semua omongan itu merupakan metafisik. Semua makna itu melekat pada konteksnya. Misalnya ada persamaan A = A + 1. Secara matematika tentu persamaan tersebut salah. Persamaan tersebut hanya bernilai benar secara kontekstual. Pernyataan tersebut hanya relevan jika ada yang bergerak, jika ada input. Jika A kita ambil 3, maka A = 3 + 1 = 4, maka print 4. Jika diinputkan lagi seperti proses sebelumnya, diperoleh print 5, dan seterusnya. Maka sebenar-benar hidup itu seperti proses yang disebutkan di atas. Manusia tidak akan bisa menemukan dirinya yang telah lalu. Dirinya yang lalu telah bertambah dengan sesuatu. Kita selalu mengalami perubahan. 
demikianlah refleksi perkuliahan kali ini. semoga bermanfaat.

Comments