Perjalanan filsafat
Refleksi
mata kuliah Filsafat Ilmu
Kamis,
12Oktober 2017
Dosen
pengampu: Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Pada perkuliahlan kali ini, Pak Marsigit memberikan
perkuliahan dengan metode ekspositori, yaitu jenis metode pembelajaran dengan
cara terlebih dahulu memberikan keterangan berupa definisi, prinsip dan konsep
materi pelajaran, serta memberikan ceramah berupa contoh-contoh latlihan
pemecahan masalah, demonstrasi dan penugasan.
Tema perkuliahan hari ini adalah tentang filsafat dari awal
hingga akhir jaman. Di awal penjelasan, Pak Marsigit memberikan pengandaian bahwa
di akhir jaman seperti sekarang ini, kita semua ibaratnya seperti ikan cethol.
Maka beruntunglah mereka-mereka yang mempelajari filsafat, karena ibarat ikan
cethol, mereka mendapatkan kesempatan untuk berikhtiar mencari air segar di
lautan yang belum terkontaminasi. Air segar itu berupa kehidupan. Sedangkan air
yang telah terkontaminasi itu adalah polusi-polusi seperti hoax yang banyak
sekali beredar saat ini. Dengan berita hoax seperti itu, kita berpotensi
mengalami disorientasi, intoleransi, dan radikalisme. Salah satu penyebab
disorientasi adalah karena filsafat jaman sekarang adalah filsafat bahasa atau
filsafat analitik. Sehingga, bagi setiap orang, sebenar-benar dirinya adalah
bahasanya, maupun tulisannya. Jika seseorang menjiplak tulisan orang lain, maka
dirinya adalah sebenar-benar plagiat.
Kemudian Pak Marsigit menjelaskan tentang Isme. Isme dalam
ilmu filsafat artinya adalah Pusat. Sehingga dalam menyebutkan isme-isme, kita
harus lebih berhati-hati. Sebagai contoh jika terdapat paham humanisme, maka
artinya paham yang berpusat pada manusia, sehingga jika begitu, dimana
Tuhannya? Jika Humanisme dibahas di bidang lain atau aspek ilmu pengetahuan
yang lain, bahkan di lingkungan orang awam sekalipun, akan sangat berbeda
dengna Humanisme dalam ilmu filsafat. Sebagai contoh dalam ilmu psikologi,
humanisme dapat diartikan kemanusiaan, atau manusiawi.
Yang sekarang terjadi dimasa kita adalah Pos pos modern. Sedangkan
pada masa Immanuel Kant, filsafat di masa itu adalah filsafat solusi, atau
filsafat tengah. Sebelum masa Immanuel Kant, dikenal dengan Filsafat kritis,
yaitu filsafat yang mengkritisi dua aliran, aliran Rasionalisme dan Empirisme,
sehingga diambil jalan tengah.
Sekitar 2000 SM, sebelum zaman Socrates, filsafat yang ada
adalah filsafat alam. Dimasa ini orang masih bertanya-tanya tentang apa yang
ada diluar diri mereka. Kemudian masuk ke masa metafisik. Semua Isme itu terlahir
dikarenakan oleh obyeknya. Obyek yang ada di langit hanya satu, sedangkan obyek
yang ada dibumi itu banyak. Sehingga yang di bumi itu disebut dengan kenyataan
yang bersifat plural. Pluralisme adalah filsafat yang menggambarkan keadaan
dibumi. Sedangkan apa yang ada dilangit itu bersifat tunggal atau mono,
sehingga di kenal sebagai monoisme dalam ilmu filsafat, dan yang tertinggi
adalah kuasa Tuhan, disebut Spiritualisme. Sehingga mempelajari filsafat itu
cukup dengan mempelajari obyeknya dan seperti apa sifatnya. Misalnya, yang
diatas langit itu sifatnya ideal, maka disebut idealisme, dan juga bersifat
absolut, sehingga disebut absolutisme. Prinsip yang dilangit bersifat absolut,
sedangkan yang di bumi bersifat relatif, dan menjadi bayangan. Semua yang ada
dibumi adalah bayangan yang di langit. Contohnya adalah seorang anak. Pada
prinsipnya anak tersebut merupakan anak dari pasangan si A dan B yang
dibuktikan dengan Akte Lahir, tetapi selama di bumi anak itu menjadi bentuk
plural, yaitu anak itu disaat pagi, di saat sore, di saat siang, di saat malam,
saat makan, dan seterusnya yang tiada habisnya dan disebut dengan infinite regress.
Jika spiritual diturunkan ke arah logika, maka akan menjadi
filsafat olah pikir. Sejauh-jauhnya olah pikir, harus didasari dengan do’a. Olah
pikir bersifat logos atau logis, disebut logisisme. Tokoh dari logisisme adalah
Plato. Menurut Plato, sebenar-benar filsafat adalah olah pikir dan logika.
Sedangkan murid Plato, yaitu Aristoteles, tidak setuju dengan pendapat
tersebut. Menurut Aristoteles, filsafat itu adalah yang real, yang nyata. Yang
mono itu bersifat identitas dan yang di bumi prinsipnya kontradiksi. Apa yang
ada di bumi itu terikat dan waktu. Sebenar-benar musuh fildafat adalah tidak
cukup ruang dan waktu. Kita ambil contoh sudut lancip, yaitu sudut yang
besarnya kurang dari 90o. Tetapi pada kenyataannya jika digambarkan,
maka sudut tersebut tidak pernah lancip. Bahkan tidak ada benda yang lancip di
dunia ini, karena semua benda itu tersusun dari atom yang bentuknya melingkar. Sehingga
sudut lancip hakekatnya hanya ada di dalam pikiran.
Analitik itu bersifat logis, dan logis itu tidak perlu
melihat kenyataan. Logis artinya konsisten. Kontradiksinya matematika adalah
tidak konsisten, sedangkan kontradiksinya kenyataan adalah tidak identitas. Maka
dari itu untuk memahami bahasa, kita memerlukan intuisi, yaitu intuisi dunia
anak. Sebenar-benar hidup adalah terbatas dalam keterbatasan, dan tidak di
dalam kesempurnaan, demikan sebaliknya. Selain bersifat analitik, pikiran juga
bersifat A-priori. Sedangkan kenyataan bersifat A-posteriori. A-priori adalah paham,
walaupun belum mengalami, contohnya adalah seorang ilmuan yang memahami
perhitungan yang terkait dengan badai matahari, walaupun belum pernah melihat
langasung badai yang terjadi disana. Sedangkan A-posteriori adalah paham
setelah mengalami, baik melihat, mendengar, atau merasakan. Contohnya adalah
dalam kehidupan hewan, atau juga kehidupan anak kecil. Maka jika seorang guru
mengajar di Sekolah Dasar menggunakan metode A-priori, maka dia telah
menghancurkan dunia anak kecil, yaitu intuisinya. Sehingga jika intuisi telah
hancur, maka yang terjadi adalah disorientasi.
Pada paham Rasionalisme, ditambah dengan skeptisisme, pikiran
bersikap skeptis (mempertanyakan/diragukan), seperti pertanyaan Rene Descartes.
Seperti ibaratnya ikan cethol yang terbiasa dengan air yang keruh, kemudian
tiba-tiba ke tempat yang airnya jernih. Teori dari Descartes adalah, tiadalah
ilmu jika tidak berlandaskan rasio. Sedangkan pada aliran empirisisme (
tokohnya adalah David Hume), menyatakan bahwa tiadalah ilmu jika tidak
berlandaskan pengalaman. Selama kurang lebih dua abad mereka berselisih. Maka
muncullah Immanuel Kant sebagai penengah. Kant berpendapat bahwa Descartes dan
Hume keduanya benar. Namun Descartes terlalu mengagung-agungkan logika dan
mengabaikan pengalaman, sedangkan Hume terlalu mengagung-agungkan pengalaman
tetapi mengabaikan logika. Maka Immanuel Kant mengambil jalan tengah yaitu,
mengambil teori A-priori dari Descartes, sedangkan dari Hume, Kant mengambil
teori sintetik nya. Sehingga dalam bukunya yagn berjudul Critique of Pure Reason, Kant menyatakan bahwa sebenar-benar ilmu
adalah Sintetik A-priori.
Kemudian muncullah seorang Auguste Comte (1798-1857) yang
menyuarakan pikirannya bahwa aliran-aliran isme itu tidak penting dan lebih
baik disingkirkan saja. Menurut Compe, manusia lebih baik berfokus untuk
membangun dunia, sehingga lahielah aliran positivisme, yang dicetuskan oleh
Comte. Tapi hal yang buruk dari aliran ini adalah mengabaikan agama. Agama
diletakkan di bagian pada urutan terakhir, yaitu
Agama-Filsafat-Saintifik(Positive). Menurut Comte, suatu pernyataan dianggap
benar jika sesuai fakta, dan tidak dianggap benar jika tidak sesuai fakta. Bagi
comte, agama tidak memiliki arti dan faedah karena Tuhan tidak dapat dilihat
atau didengar.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebenar-benar isme
adalah modus. Filsafat itu adalah modus. Demikian lah hasil refleksi
perkuliahan Filsafat Ilmu yang disampaikan oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Comments
Post a Comment